Muhammad Habibie Amrullah's Blog

Tempat aku bebas menulis apa saja

Cinta dan asmara dalam Islam

leave a comment »

Islam mengajarkan kita untuk menjadikan keridhaan Allah sebagai motivasi aktifitas kehidupan. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tidak lepas dari interaksi satu sama lain, maka manusia tidak akan bisa terlepas dari hubungan lelaki dan perempuan.

Islam begitu ketat dalam mengatur hubungan yang satu ini. Hubungan lelaki dan perempuan adalah pondasi utama terwujudnya kehidupan bersosial. Jika hubungan ini terjalin dengan sebaik-baiknya, maka terbentuk pula masyarakat yang baik dan sehat. Namun jika sebaliknya, maka sebaliknya pula.

Dalam artikel ini yang akan saya bicarakan adalah hubungan lelaki dan perempuan dalam kategori asmara dan ketertarikan seksual; tidak perlu saya bahas hubungan antara ayah dan putrinya, kakak perempuan dan adiknya, dll.

Dunia hiburan dengan semua bentuknya seperti film, sinetron, novel, komik, dan lain sebagainya, lebih dari sering mengangkat masalah cinta dan asmara sebagai temanya. Karena bagi semua orang hal itu begitu menyenangkan dan membangkitkan gairah dalam hubungan lelaki dan perempuan.

Cinta dan asmara yang diunjukkan di dalamnya selalu diagung-agungkan. Dianggapnya sebagai permata suci yang sangat mulia. Padahal jika saya mau katakan, mustahil jika semua itu tidak ada kaitannya dengan seks! Ya, seks adalah kenikmatan nomor satu di dunia ini yang tidak ada tandingannya. Ibaratnya jika seks itu adalah seseorang yang telanjang, maka cinta dan asmara adalah pakaiannya. Pakaian inilah yang diperindah, dipercantik dan didisain sedemikian menarik yang pastinya peminat pakaian itu akan tertarik pula dengan “tubuh telanjang”.

Lalu apa kata Islam? Secara frontal, saya jelaskan bahwa aturan hijab dalam Islam adalah untuk mencegah umat manusia berani memasuki area suci “seks” seenaknya tanpa aturan. Kebalikan dari dunia hiburan yang digemari masyarakat, Islam tidak terlalu menjunjung cinta dan asmara sedemikian tinggi dalam hubungan seorang lelaki dengan kekasihnya. Islam, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, terus menerus menyarankan manusia agar menjadikan keridhaan Allah sebagai motivasi hubungan antar lelaki dan perempuan, bukannya cinta dan asmara.

Sebagaimana Islam menutupi pakaian wanita dan perhiasannya dengan hijab demi tercegahnya hubungan seks tanpa aturan (di luar nikah), Islam juga menghijabi masalah cinta dan asmara sehingga membuat kita tidak terlalu perlu mengangkatnya sebagai tema hiburan.

Singkatnya, mengapa Islam begitu begis terhadap hubungan lelaki dan perempuan, yang tak luput dari hubungan seks, yang tidak berada di dalam ikatan pernikahan? Anda sendiri tahu apa jawabnya. Silahkan anda rasakan sendiri apa hasil hubungan bebas lelaki dan perempuan sat ini? Seks bebas bagaikan tumor yang terus tumbuh besar merusak setiap lapisan masyarakat, begitu juga anak cucu anda jika anda tidak berusaha membenahi fenomena ini. Diawali dengan pornografi, sampai ke prakteknya; semunya berawal dari cinta dan asmara yang dielu-elukan media! Cinta yang dianggap suci, murni, dll…yang hanya sekedar kulit tipis, mudah terkelupas dan pecinta pasti akan memasuki hubungan seks; tak dapat dihindari. Padahal Islam hanya melegalkan seks dalam hubungan suami dan istri, bukan seorang lelaki dengan setiap wanita yang ia sukai.

Lalu apa pendapat Islam tentang cinta dan asmara? Apakah Islam sama sekali menolaknya? Tidak. Islam mengagungkan cinta, namun tidak sembarang cinta. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada Tuhan. Dengan cinta Ilahi, dengan sendirinya cinta-cinta yang lain akan timbul. Sebagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta naluriah yang muncul dengan sendirinya, tanpa perlu kecintaan itu ditampilkan di dunia entertainment sebagaimana cinta dan asmara yang sampai sekarang tidak pernah kehabisan penggemarnya, cinta seorang suami dan istrinya pun juga cinta yang naluriah pula, yang tanpa perlu dipoles dan dipanas-panaskan dalam dunia hiburan, dengan sendirinya pun manusia akan mencintai istri/suaminya.

Masalah cinta dan asmara inilah yang diungkit-ungkit oleh pemuda jaman ini jika seandainya mereka harus menikah dengan orang yang tidak dikenali sebelumnya; mereka berkata, “kita tidak saling mencintai, bagaimana kita bisa menikah?” Cara berfikir inilah yang telah kita petik sebagai buah segar dari sekian luasnya ladang hiburan yang tersebar di seluruh dunia. Adapun jika pemuda itu menanyakan pertanyaannya kepada Islam, akan dijawabnya, “Tuhan yang akan menciptakan kecintaan antara kalian setelah menikah.” Namun pemuda itu mentah-mentah menolaknya dan menganggapnya mustahil; karena segala yang tercetak dalam benaknya, cinta yang hanya ada di dunia ini adalah cinta yang pernah ia saksikan dalam dunia hiburan.

Tidak mustahil Tuhan menciptakan cinta, kita sebagai pecinta saja telah Ia ciptakan! Dalam sebuah hadits disebutkan, saat kita mencintai Tuhan dan menjauhi larangan-larangannya, Ia akan menciptaan kecintaan terhadap kita dalam hati setiap manusia. Ya, ya… sekali lagi, ini mungkin tidak masuk akal bagi orang yang mendengarnya untuk pertama kali.

Kembali ke fakta yang ada saat ini. Jika kita menjalin hubungan dengan lawan jenis berdasarkan cinta, joba kita jelaskan apa yang kita cintai dan sukai itu? Semuanya pasti tidak terlepas dari kecantikan, ketampanan, kekayaan, dan lain sebagainya. Contoh saja, cinta dan asmara yang diangkat dalam dunia hiburan yang pasti bertumpu pada kecantikan seorang wanita, yang kemudian diagung-agungkan menjadi cinta abadi, cinta suci, dan lain sebagainya. Meskipun saya sendiri tidak menutup kemungkinan ada cinta-cinta lain yang tidak berlandaskan agama, namun juga tidak bertumpu pada kecantikan, ketampanan, dan faktor-faktor duniawi lainnya; namun, itu jarang sekali.

Jika kita mau menjadikan agama, khususnya Islam, sebagai sandaran kita, maka saya akui kita akan mendapatkan cinta abadi dan suci. Perhatikan contoh ini. Seseorang menikah, karena menganggapnya sebagai ibadah, anjuran agama, dan demi terbentuknya keluarga yang sehat, sehingga mereka dapat mendidik anak-anak dan membesarkan mereka lalu dipersembahkan kepada bangsa. Mereka tidak saling mencintai sebelum mereka menikah, karena mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka menikah karena mendengar anjuran-anjuran untuk menikah dengan orang yang baik agama dan akhlaknya. Setelah mereka menikah, dengan sendirinya mereka pasti menyadari bahwa mereka harus saling mencintai, dengan demikian tumbuhlah cinta seorang suami dengan istrinya. Cinta mereka dikarenakan cinta Ilahi, cinta itu akan selalu ada selama Tuhan ada. Cinta inilah yang tumbuh dari Tuhan, bukan dari kecantikan, ketampanan, harta benda, dan lain sebagainya. Kalau mau diadu, manakah cinta abadi, apakah cinta seperti ini atauka cinta Romeo dengan Juliet? Silahkan anda adu dan anda nilai.

Adapun jika anda bertanya, bagaimana jika ternyata setelah mereka menikah mereka menemukan banyak ketidak-cocokan yang berujung pada pertengkaran, bahkan perceraian? Jawabnya, akan menjadi demikian jika yang menikah belum terlalu matang dan kurang meresapi ajaran-ajaran agama. Bukankah kita sebagai manusia memiliki banyak perbedaan satu sama lain? Islam datang menyatukan kita, umat manusia; dan seharusnya kita bersatu. Islam pun datang dengan ajarannya untuk menyatukan kita dengan istri/suami kita, seperti apapun perbedaan yang kita miliki. Kebijakan lah yang dapat menyatukan perbedaan-perbedaan, lalu saling melengkapi. Jika kebijakan itu tidak kita miliki, pasti jalan yang kita pilih adalah perpisahan.

Kalau mau berbicara tentang bagaimana kita harus menikah dan memilih pasangan, pembahasannya lebih spesifik dari pembahasan ini; masih banyak masalah lain yang perlu dibahas.

 

Copas dari website Hauzah Maya

Written by Administrator Hauzah Maya

Desember 3, 2011 at 7:13 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: